Selasa, 14 Desember 2010

Bercanda di Tengah Keluarga


Islam sangat memerhatikan tuntuan-tuntutan fitrah (karakter dasar manusia). Satu diantaranya adalah jiwa dengan berbagai kecenderungannya. Jiwa membutuhkan obat penawar kejenuhan, menghapus kepayahan, dan menggantinya dangan aktivitas yang menggembirakan.

Salah satu obat yang diperbolehkan dan dianjurkan Islam adalah istirahat sejenak dan bersenda gurau. Keduanya merupakan aktivitas yang menghibur. Salah satu manfaatnya adalah menyebarkan rasa cinta antara suami istri, ayah-ibu, dan diantara anak-anak, memperkuat ikatan-ikatan kasih sayang, dan mendatangkan kebahagiaan.

Rasulullah SAW menganjurkan para sahabatnya untuk bersenda gurau dan tertawa bersama istri dan anak-anak. Beramah tamah, bersikap lembut, dan mengalirkan kebahagiaan kepada mereka. Komunikasi dua arah antara suami-istri, orangtua-anak serta senda gurau antar keduanya oleh Nabi dijelaskan sebagai salah satu ukuran/pertanda hadirnya kebahagiaan dalam sebuah keluarga. Jika tanda tersebut hilang segera usahakan agar pertanda tersebut hadir kembali.

Bercanda atau guyon sangat penting. Selain membuat suasana cair, juga bisa menyehatkan. Lantaran kita akan merasa bahagia. Soalnya kan tidak ada tawa sedih. Ya ada tentu saja tawa bahagia. Saling menggembirakan antar anggota keluarga dengan saling bercanda akan menciptakan suasana hangat, akrab, dan membahagiakan. Apalagi pada saat kita menggembirakan orang lain, kita akan menjadi pihak pertama yang merasakan kegembiraan itu. Lho kok bisa? Bisa saja, karena kalau kita tidak bahagia, bagaimana mungkin bisa menggembirakan orang lain? Kalau wajah nampak selalu berseri-seri, senantiasa memberikan senyuman, tidak cemberut, pasti anak-anak akan senantiasa betah berkarib-karib bersama kita.

Jika hati kita merasa gembira, meskipun menghadapi persoalan yang sulit, kita akan mudah menemukan jalan keluarnya. Rasul Muhammad Saw, manusia utama, teladan seluruh umat manusia telah memberi nasihat buat kita semua agar menggembirakan orang lain. Memperdengarkan berita-berita yang menggembirakan dan menghibur orang lain hingga perasaan sedihnya hilang.

Berikan kegembiraan kepada anak-anak bapak-ibu dengan menanyakan kabar mereka, tanyakan sedang ada masalah atau tidak barangkali ada yang bisa Anda bantu. Adalah penting memberikan motivasi kepada anak-anak untuk menggembirakan orang lain, khususnya pada teman-temannya.

Di antara petunjuk Rasulullah SAW untuk menciptakan kebahagiaan di rumahnya adalah tersenyum dan tertawa bersama keluarganya. Dari ‘Aisyah r.a., beliau pernah ditanya, Bagaimana keadaan Rasulullah SAW ketika ada di rumah? ‘Aisyah menjawab, “Ia selembut-lembut manusia; tersenyum dan tertawa.” Dalam senyum mengandung makna kasih sayang, memperindah perasaan, mencintai pertemuan, dan menghapus rasa sakit.

Rasulullah SAW menebarkan kebahagiaan di rumahnya dan memenuhi istri-istrinya dan anak-anak dengan kebahagiaan dan kesenangan dengan cara bersikap lemah lembut, tertawa, dan bersenda gurau dengan mereka.

Dari ‘Aisyah r.a, beliau berkata: “Rasulullah SAW datang dari perang Tabuk atau perang Hunain. Di rumah kecilku (yang berbentuk seperti lemari) memiliki tirai penutup. Tiba-tiba angin bertiup sehingga menyingkapkan sisi tirai penutup itu dari anak-anakan perempuanku (boneka mainan perempuan). Maka Rasulullah SAW bertanya: “Apa ini, wahai ‘Aisyah?” Aku menjawab: Boneka mainan perempuanku.

Rasulullah SAW melihat di antara boneka-boneka itu ada kuda yang memiliki dua sayap dari tambalan-tambalan. Nabi bertanya: “Apa yang ku lihat di tengahnya ini?” Kuda, jawabku.

“Apa yang ada di atasnya ini?” Rasulullah SAW kembali bertanya. Itu dua sayapnya, jawabku. “Kuda bersayap dua?” Tanya Rasulullah SAW (keheranan). Belum pernahkah engkau mendengar bahwa Sulaiman memiliki kuda yang bersayap banyak? Jawabku. Maka Rasulullah SAW tertawa sampai aku melihat gigi gerahamnya.”

Rasulullah SAW membiarkan gadis-gadis kecil bermain dengan ‘Aisyah. Beliau merasa senang melakukannya karena ‘Aisyah senang.  

Dari ‘Aisyah r.a. beliau berkata: Aku biasa bermain-main dengan boneka mainan perempuan di sisi Rasulullah SAW dan kawan-kawanku datang kepadaku. Kemudian mereka menyembunyikan boneka-boneka mainan tersebut karena takut kepada Rasulullah SAW, tetapi Rasulullah SAW malah senang dengan kedatangan kawan-kawanku itu. Lalu mereka bermain-main bersamaku.

Senda gurau juga dapat dilakukan saat makan bersama. Salah satu cara yang sangat dianjurkan bagi suami dan ayah muslim untuk menghibur istri dan anak-anaknya adalah berakrab dan berdekat-dekat saat makan bersama. Tidak pantas bagi istri, suami dan anak-anak untuk makan sendiri-sendiri. Sebab ini merupakan karakter para tuan Jahiliyah terhadap para pelayannya dan kebiasaan orang-orang yang bertengkar dan berselisih.

Meskipun begitu, guyon atau bercanda tetap memunyai aturannya sendiri.  Ada sejumlah adab atau aturan main yang dianjurkan oleh Islam ketika bercanda. Sehingga kelakar atau  candaan ini akan berbuah dan terlepas dari hal-hal yang negatif.

Tata cara itu meliputi: Gurauannya benar, tidak mengandung dusta. Tidak berlebihan. Sebab lelucon yang berlebihan akan mematikan hati, menambah kelalaian dari zikir (mengingat) Allah, mengurangi harga diri (martabat) seseorang. Canda yang tidak menyakiti, membuat sedih orang lain, menakutkan, meremehkan, mengolok-olok, mengejek, atau ghibah (bergosip, ngrasani) atau hal-hal yang merugikan orang lain.

Hiasilah diri Anda dengan petunjuk Nabi agar kebahagiaan menyelimuti rumah Anda. Bagi para orangtua harus menambah kuantitas senda gurau. Bukan berarti berlebih-lebihan. Tapi perlu diupayakan hingga mencapai titik optimal—dalam memerhatikan dan membahagiakan anak-anak.

Dengan cara mengambil waktu yang tepat dan situasi yang cocok, seperti pada saat memasak bersama, saat makan, dalam perjalanan. Orangtua harus harus memilih gurauan dan humor yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak.♥

Tidak ada komentar: